Antara Rezeki yang Diraih dan Cinta yang Terabai”
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di setiap pagi, deru kendaraan memecah kesunyian. Di dalamnya, ada sosok lelaki yang menatap jalan panjang dengan mata yang setengah terpejam. Ia berangkat sebelum matahari muncul, pulang setelah senja menutup hari. Di pikirannya hanya satu hal: “Aku harus menafkahi keluargaku.”
Namun, entah sejak kapan, kata nafkah hanya berarti uang, tagihan, dan kebutuhan rumah tangga. Sementara pelukan, sapaan lembut, atau sekadar duduk bersama di ruang tamu menjadi hal langka—mewah, bahkan terlupakan.
Kesibukan yang Menelan Kehangatan
Banyak suami yang bekerja tanpa lelah, berjuang agar keluarganya tidak kekurangan. Tapi sering kali, di balik kerja keras itu, ada hati yang pelan-pelan menjauh. Anak-anak tumbuh tanpa sempat merasakan hangatnya dekapan ayah. Istri menunggu di balik pintu, tapi yang pulang hanya tubuh lelah dan pikiran penuh beban.
“Mereka harus mengerti,” begitu pikir sang suami. Tapi benarkah keluarga hanya butuh pengertian tanpa kehadiran?
Padahal, cinta tidak tumbuh dari transfer gaji, tapi dari waktu yang dibagi. Dari tawa yang dibiarkan mengalir tanpa tergesa. Dari percakapan sederhana di meja makan. Dari sentuhan lembut yang berkata tanpa kata: Aku ada untukmu.
Nafkah Batin yang Terlupakan
Memberi kasih sayang bukan berarti berhenti bekerja. Tapi bekerja tanpa kasih sayang membuat semua perjuangan terasa hampa. Rumah yang megah pun terasa dingin jika hati di dalamnya saling asing. Anak-anak tak akan mengingat seberapa besar uang saku mereka, tapi akan selalu mengenang siapa yang menemaninya belajar, siapa yang mendengarkan ceritanya.
Sebagaimana tubuh butuh makanan, hati pun butuh perhatian. Suami bukan hanya pencari rezeki, tapi juga pemimpin hati. Dan tugas itu tak bisa digantikan oleh lembaran uang.
Menemukan Kembali Makna Pulang
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak. Menurunkan kecepatan. Menatap wajah-wajah yang kita perjuangkan, bukan hanya melalui foto di ponsel. Pulang bukan sekadar membuka pintu rumah, tapi membuka hati—untuk benar-benar hadir.
Sebab pada akhirnya, uang bisa dicari, tapi waktu dan kasih sayang tak bisa dibeli. Jangan sampai saat kita punya segalanya, yang tersisa hanyalah penyesalan karena terlalu sibuk hidup untuk keluarga, tapi lupa hidup bersama keluarga.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar