Budaya Kritik di Era Digital: Saat Berpendapat Jadi Gaya Hidup
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Budaya Kritik di Era Digital: Saat Berpendapat Jadi Gaya Hidup.
Oleh: Rikin
Dulu, menyuarakan pendapat mungkin hanya bisa dilakukan lewat mimbar, media massa, atau forum-forum resmi. Sekarang? Cukup lewat satu unggahan di media sosial. Dari urusan politik, tren hiburan, sampai masalah pribadi selebritas — semua bisa jadi bahan opini publik. Di era digital ini, berpendapat bukan cuma hak, tapi sudah berubah jadi gaya hidup.
1. Semua Orang Punya Panggung
Media sosial membuat siapa pun bisa jadi “penulis opini”. Tak perlu gelar jurnalis atau status publik figur — asal punya akun dan koneksi internet, suara kita bisa terdengar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat makin aktif dan kritis. Kita tak lagi sekadar jadi penonton, tapi juga ikut menentukan arah percakapan publik. Sayangnya, kebebasan itu kadang disalahartikan: tidak semua yang lantang berarti benar, dan tidak semua yang berbeda harus dibungkam.
2. Kritik yang Jadi Tren
Di dunia digital, kritik bisa muncul secepat trending topic. Kadang karena kesadaran, kadang sekadar ikut arus.
Fenomena “cancel culture” misalnya, sering berawal dari keinginan menegakkan keadilan sosial, tapi tak jarang berakhir jadi ajang perundungan massal. Akibatnya, esensi kritik — yaitu memperbaiki — malah hilang tertelan euforia “ramai-ramai menghujat”.
3. Beda Antara Kritis dan Nyinyir
Bersikap kritis itu penting, tapi tidak semua komentar tajam bisa disebut kritis.
Kritis berarti berani mempertanyakan dan memberi solusi. Nyinyir hanya menyindir tanpa arah. Di era digital yang serba cepat, batas keduanya bisa kabur. Karena itu, penting untuk tahu kapan kita sedang berusaha membangun, dan kapan kita cuma sedang mencari perhatian.
4. Etika Digital Itu Wajib
Kebebasan berekspresi bukan berarti bebas dari tanggung jawab. Setiap kata yang kita unggah bisa berdampak — pada reputasi, emosi, bahkan hukum.
Makanya, sebelum menulis komentar pedas atau me-retweet sesuatu, ada baiknya berhenti sejenak dan berpikir: apakah ini fakta? Apakah bahasanya pantas? Apakah tujuannya membangun? Dunia maya mungkin terasa bebas, tapi jejak digital tak pernah benar-benar hilang.
5. Kritik yang Mendorong Perubahan
Kalau dilakukan dengan bijak, kritik bisa jadi kekuatan besar. Banyak perubahan sosial dimulai dari suara kecil di internet yang kemudian membesar jadi gerakan nyata.
Kritik yang sehat bukan tentang menjatuhkan, tapi tentang menyadarkan. Bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang bagaimana kita bisa lebih baik bersama.
Penutup
Budaya kritik di era digital adalah tanda masyarakat yang semakin sadar dan terhubung. Tapi di tengah derasnya opini, yang dibutuhkan bukan hanya keberanian untuk berbicara, melainkan juga kebijaksanaan untuk mendengarkan.
Berpendapat memang gaya hidup baru — tapi gaya yang paling keren adalah yang tetap menghormati orang lain.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Teruslah berkreasi, mantap
BalasHapusInsyaallah,,,
Hapus