Ketika Nahkoda Tak Mengenal Laut
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ketika Mahkota Tak Mengenal Laut
Oleh: Rikin
Di tengah derasnya arus perubahan dan gelombang tantangan yang datang silih berganti, sebuah kapal besar bernama “kehidupan berbangsa” terus berlayar. Kapal ini membutuhkan nahkoda yang mengenal arah, memahami ombak, dan mampu membaca tanda-tanda cuaca. Namun, apa jadinya jika sang nahkoda justru tak mengenal laut yang ia layari?
Peringatan semacam ini bukan hal baru. Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah ﷺ telah bersabda,
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)
Hadis singkat itu terasa semakin relevan hari ini. Dari birokrasi hingga lembaga publik, dari perusahaan hingga organisasi masyarakat, gejala menyerahkan amanah kepada yang tidak ahli sering kali menjadi akar persoalan. Ketika jabatan lebih ditentukan oleh kedekatan, kepentingan politik, atau imbalan tertentu, maka profesionalisme dan integritas terkikis sedikit demi sedikit.
Amanah yang Hilang Arah
Dampak Salah Pilih Nahkoda
Profesionalisme Sebagai Pilar
Bangsa yang maju adalah bangsa yang menempatkan orang pada posisi sesuai keahliannya. Prinsip ini sederhana, tapi kerap diabaikan. Padahal, kompetensi dan amanah adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Seorang pejabat yang ahli namun tidak amanah bisa menyelewengkan kekuasaan; sebaliknya, yang amanah tapi tak ahli bisa membawa institusi pada kegagalan.
Refleksi: Belajar Mengenal Laut
Rasulullah ﷺ telah memberi isyarat yang jelas: ketika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Dan dalam bahasa lain, itu berarti — kapal akan karam karena sang nahkoda tak mengenal laut.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar