Ketika Media Sosial Lebih Cepat Mempengaruhi Persepsi Publik tentang Agama, Moral, dan Nilai Sosial
Ketika Media Sosial Lebih Cepat Mempengaruhi Persepsi Publik tentang Agama, Moral, dan Nilai Sosial.
Oleh: Rikin Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bobotsari
Di era digital, media sosial telah menjadi ruang publik terbesar di dunia. Informasi, opini, dan nilai-nilai disebarkan dalam hitungan detik, menjangkau jutaan orang tanpa batas geografis. Namun, kecepatan ini juga membawa konsekuensi: persepsi publik tentang agama, moral, dan nilai sosial dapat berubah dengan sangat cepat, bahkan sebelum kebenarannya diverifikasi.
Persepsi Agama di Era Media Sosial
Agama, sebagai panduan hidup manusia, sering kali menjadi topik hangat di media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi keagamaan yang beredar bersumber dari ulama atau lembaga terpercaya. Banyak konten agama yang dipotong, disalahartikan, atau dimanipulasi demi sensasi. Akibatnya, sebagian masyarakat dapat memiliki pemahaman yang keliru atau ekstrem terhadap ajaran agama. Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur’an agar umat Islam berhati-hati dalam menerima berita:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan atau mempercayai informasi, terutama yang berkaitan dengan agama.
Moral dan Nilai Sosial di Tengah Arus Informasi Cepat
Media sosial bukan hanya membentuk opini, tetapi juga mempengaruhi perilaku dan moral masyarakat. Budaya instan, hedonisme, serta kecenderungan pamer (riya digital) semakin banyak ditemukan. Norma sosial bergeser: sesuatu yang dulu dianggap tabu kini bisa menjadi tren hanya karena viral.
Rasulullah SAW telah mengingatkan pentingnya menjaga perilaku dan akhlak: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."(HR. Ahmad, no. 8729)
Hadis ini menunjukkan bahwa akhlak dan moral adalah inti dari ajaran Islam. Namun, ketika media sosial dijadikan ukuran benar dan salah, standar moral dapat kabur, digantikan oleh standar popularitas.
Dampak Positif dan Negatif Media Sosial
Tidak semua dampak media sosial bersifat negatif. Jika digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran kebaikan. Banyak ulama dan cendekiawan memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan ilmu agama secara kreatif dan menarik.
Namun, dampak negatifnya juga nyata:
- Penyebaran hoaks dan fitnah yang merusak citra agama.
- Perdebatan tanpa ilmu yang menimbulkan perpecahan umat.
- Normalisasi perilaku amoral, seperti ujaran kebencian dan body shaming.
Dalam hal ini, Islam menuntun umatnya untuk selalu berkata baik di ruang publik:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka."
(QS. Al-Isra [17]: 53)
Menjaga Etika Bermedia Sosial Menurut Islam
Untuk menghadapi derasnya arus informasi, umat Islam perlu menanamkan beberapa prinsip:
- Tabayyun (verifikasi) sebelum membagikan informasi.
- Tawadhu’ (rendah hati) dan tidak merasa paling benar di ruang publik.
- Tanggung jawab moral dalam setiap unggahan dan komentar.
- Niatkan aktivitas digital sebagai amal saleh, bukan sekadar hiburan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman etika bermedia sosial: berbicara yang baik atau lebih baik diam.
Kesimpulan
Media sosial telah mengubah cara masyarakat membentuk persepsi tentang agama, moral, dan nilai sosial. Dalam kecepatan arus informasi ini, umat Islam dituntut untuk lebih bijak, kritis, dan berakhlak dalam berinteraksi. Al-Qur’an dan sunnah telah memberi panduan agar manusia tidak hanyut dalam arus digital, tetapi menjadikannya sarana kebaikan dan dakwah. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl [16]: 125)
Dengan hikmah dan akhlak yang mulia, media sosial bisa menjadi ladang amal, bukan sumber fitnah.

Komentar
Posting Komentar